Keandalan Listrik di Tengah Pandemi COVID-19

By Samsul Bahri Abdi 09 Jun 2020, 13:31:18 WIB Gaya Hidup
Keandalan Listrik di Tengah Pandemi COVID-19

Meningkatnya kasus Covid-19 dari hari ke hari sejak beberapa waktu lalu membuat sebagian kalangan pekerja mulai familiar dengan bekerja dari rumah. Rapat secara virtual dan intensitas mengirim surel yang tinggi menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk perusahaan yang mengaplikasikan kebijakan Work from Home (WfH).

Di lain sisi, tenaga kesehatan (nakes) tak henti berupaya semaksimal mungkin di penjuru negeri guna mengurangi dampak dari pandemi ini. Namun disadari atau tidak, kebijakan WfH maupun perjuangan para nakes saat ini hanya dapat terjadi apabila daerah yang terkena pandemi memiliki akses listrik yang andal.

Data terakhir menunjukkan bahwa semua provinsi  di Indonesia sudah resmi memiliki kasus positif virus corona di daerahnya. Dengan keandalan (reliability) akses listrik yang beragam, tentunya ini dapat menjadi tantangan tersendiri bagi negeri dalam menghadapi pandemi ini. 

Baca Lainnya :

Hal ini diamini oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dimana dalam keterangan tertulisnya mengatakan berbagai penanganan medis dan non medis serta proses berkegiatan di rumah untuk bekerja maupun belajar, memerlukan jaminan stabilitas listrik. PLN diharapkan menjadi jantung yang tidak boleh berhenti berdetak untuk terus menebar manfaat dengan menyediakan listrik yang andal.

Entah dapat dikatakan beruntung atau tidak, data terakhir menunjukkan sebagian besar kasus positif berada di ibukota dan beberapa provinsi di pulau Jawa. Di dalam sektor kelistrikan, pulau Jawa memiliki keandalan listrik terbaik yang linear dengan tingginya konsumsi listrik penduduknya. Lebih dari 60% konsumsi listrik berada di pulau ini dan Jawa juga memiliki rata-rata rasio elektrifikasi tertinggi dibanding pulau maupun kepulauan lain di Nusantara.

Memastikan penduduknya untuk tetap bekerja di rumah maupun ventilator tetap menyala di rumah sakit seharusnya bukan menjadi permasalahan yang berat bagi pemerintah di ibukota maupun bagian lain di pulau Jawa. Sejalan dengan fakta diatas, Maret lalu, pemerintah berjanji untuk menjamin pasokan listrik untuk RS rujukan untuk penanganan Covid-19, namun hanya di Jakarta dan sekitarnya.

Pertanyaan besar pun dengan mudahnya muncul. Bagaimana dengan daerah lain dengan keandalan listrik rendah? Apakah mereka siap menghadapi ini ketika jumlah kasus yang ada terus menanjak secara eksponensial? Provinsi seperti Papua, NTT, Sulawesi Barat, maupun Kalimantan Tengah dengan rasio elektrifikasi terendah bisa jadi akan kesulitan untuk mendapatkan listrik di fasilitas kesehatan mereka menyala ataupun hanya sekedar menikmati kenyamanan untuk tetap tinggal di rumah saja. Cepat atau lambat, pemerintah harus mulai menyiapkan solusi yang tepat sasaran saat setruman listrik menjadi penentu nyawa sebagian masyarakatnya dalam menghadapi wabah virus korona.

Isu Global

Tak hanya di beberapa provinsi di Indonesia, permasalahan akses listrik dan keandalannya mulai menimbulkan efek yang lebih menakutkan di berbagai belahan dunia ketika katastrofe terjadi, khususnya negara-negara di bagian sub-sahara Afrika. Dengan lebih dari 840 juta orang dan 72% fasilitas kesehatan tidak memiliki akses listrik yang memadai, wabah virus corona ini dapat menjadi mimpi yang lebih buruk bagi mereka.

Representatif PBB untuk sektor energi,  Damilola Ugonbiyi, berkata bahwa tanpa adanya listrik penanganan terhadap situasi kritis akan menjadi mustahil dengan banyaknya peralatan kesehatan yang bergantung dengan ketersediaan listrik.

Bukan hanya itu, apabila vaksin untuk virus ini sudah ditemukan, tidak adanya rantai logistik dengan temperatur rendah (cold chain) dan lemari pendingin yang dibutuhkan untuk menjaga kualitas vaksin akan membuat masyarakat tanpa listrik ini kehilangan kesempatannya untuk memperoleh penyembuhan yang mungkin nantinya sudah dinikmati berbulan lebih dulu di negara maju.

Damilola menambahkan tiga solusi yang dapat dilakukan oleh negara-negara yang memiliki daerah dengan keandalan listrik yang rendah. Pertama adalah, memprioritaskan solusi sumber energi layaknya sel surya yang tidak terhubung dengan jaringan (off-grid solar system) untuk fasilitas kesehatan yang membutuhkan.

Kedua, memastikan penduduk yang memiliki penghasilan rendah tetap mendapatkan akses listrik dengan bantuan dari pemerintah untuk menanggung biaya yang ada. Terakhir, meningkatkan keandalan listrik dan produksi sumber energi untuk mempersiapkan pemulihan ekonomi setelah pandemi ini usai. Ketersediaan teknologi, kesiapan pemerintah, bantuan donor, dan kapabilitas investor, tiga solusi ini seharusnya dapat dilaksanakan negara-negara dunia untuk melewati badai yang semua manusia menginginkan untuk cepat berlalu.

Kembali kepada Indonesia, saat ini memang belum ada kasus dimana kesulitan akses listrik menjadi momok negara untuk mengurangi dampak pandemi. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Rida Mulyana, juga mengimbau agar para pemangku kepentingan yang bertugas mulai dari pemasok sumber energi, pembangkitan, sampai dengan penyaluran untuk terus menjaga ketersediaan listrik bagi masyarakat.

Dari tiga solusi di atas, pemerintah juga sudah melakukan dengan cukup baik perihal pemberian subsidi listrik bagi kalangan kurang mampu. Namun, permasalahan sesungguhnya dapat muncul ketika solusi pertama dalam penyediaan akses listrik kesehatan tidak dipenuhi maupun ketika pemerintah gagal meningkatkan keandalan listrik ketika ekonomi harus kembali menggeliat di penjuru negeri.

Pada akhirnya, Penulis hanya berharap ketersediaan dan keandalan listrik ini dapat menjadi hak bagi semua masyarakat Indonesia, bahkan dunia, bukan hanya untuk sebagian masyarakat saja. Sehingga saat wabah ini datang kepada mereka dengan skala yang sama layaknya yang terjadi di Jakarta, permasalahan listrik bukanlah menjadi hal yang membuat mereka tidak dapat bertahan dari pandemi yang ada.

 

Ditulis oleh:

Huud Alam

LPDP Awardee PK-45, Renewable Energy Enterprise and Management, Newcastle University, United Kingdom

sumber : matagarudalpdp.org

Energy Analyst at PetroRaya Resources




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook

Melihat semua komentar

Menulis komentar