Perayaan Kartini Dan Perempuan Di Masa Pandemi

By Saidah Rauf 09 Jun 2020, 12:34:15 WIB Tokoh
Perayaan Kartini Dan Perempuan Di Masa Pandemi

Keterangan Gambar : Perayaan Kartini Dan Perempuan Di Masa Pandemi


Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia merayakan hari Kartini. Kartini adalah pahlawan Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita. Atas jasanya ini, Pemerintah Indonesia telah menetapkan hari lahirnya sebagai hari besar negeri.

Peringatan hari Kartini identik dengan kemeriahan dan nuansa keperempuanan. Anak-anak Paud dan taman kanak-kanak hingga para lansia di panti werdha bergembira merayakannya. Namun, peringatan hari Kartini tahun 2020 ini menghadirkan wajah yang berbeda. Pandemi Covid-19 yang meneror dunia telah membatasi ruang untuk mengekspresikan kegembiraan di hari Kartini seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini tak ada pawai siswa berpakaian adat di jalanan kota, lomba memasak dan berkebaya ibu-ibu sekecamatan, atau berkumpul bersama para oma dipanti jompo untuk berbagi sembako sekaligus menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini.

Domestik vs publik; memaksimalkan peran

Jumlah kasus covid-19 di Indonesia bertambah setiap hari. Hingga saat ini (21/04/2020), sebanyak 7.135 kasus positif covid-19 yang telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan PCR. Jumlah ini meningkat 375 kasus dibandingkan hari sebelumnya. Peningkatan juga terjadi pada total pasien positif covid-19 yang dilaporkan meninggal. Trend ini kemungkinan akan tetap bertahan hingga hari-hari mendatang karena jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang masih cukup tinggi yaitu 16.763 dan 186.330 orang.

Salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus corona yang dianjurkan oleh Lembaga Kesehatan Dunia adalah menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain atau melakukan social distancing. Sejak diumumkannya kasus pertama covid-19 di Indonesia pada tangga 2 Maret lalu, pemerintah semakin gencar mensosialisasikan agar masyarakat membatasi kontak sosial untuk mencegah penularan virus Covid-19. Imbauan ini secara langsung mempengaruhi kebiasaan masyarakat memperingati hari Kartini.  Tak dibolehkannya perayaan meriah tidak lantas menjadikan perjuangan Kartini tak punya arti. Pada kenyataanya, seruan emansipasi Kartini, terbukti berhasil pada perempuan di bumi pertiwi.  

Sejatinya, sebelum masa pandemi, sosok kartini-kartini masa kini telah banyak tampil di ruang publik. Bukan hal aneh lagi jika melihat banyak perempuan Indonesia yang bersekolah hingga level pendidikan tertinggi. Berbagai profesi yang dulunya hanya didominasi oleh kaum lelaki, kini banyak diperankan oleh perempuan. Perempuan hadir setiap saat di stasiun TV sebagai presenter, artis, musisi, dan wartawan. Perempuan ada di kantor sebagai staf bahkan mengisi berbagai posisi penting di institusi pemerintah maupun swasta. Perempuan mampu menerbangkan pesawat ke angkasa hingga menjadi kuli bangunan di tepi jalan. Kehadiran perempuan di ranah politik pun kian ramai. Emansipasi yang dulu disuarakan Kartini menggema di ruang sosial bangsa kita. Tampil di ruang publik adalah bentuk aktualisasi diri. Perempuan Indonesia telah lama bertransformasi menjadi makhluk yang mandiri.

Kemandirian kartini masa kini, tampaknya menemukan ujian terberat di masa pandemi.  Ujian ini mungkin bertambah sulit bagi perempuan yang telah berkeluarga dan punya anak. Kekhawatiran akan penyebaran virus Covid-19, mengharuskan orang untuk tinggal di rumah saja. Kebijakan bekerja dari rumah atau Work form Home (WFH) menjadi pilahan paling aman. Bagi sebagian besar perempuan yang biasanya bekerja diluar rumah, terpaksa melaksanakan peran publiknya bersamaan dengan peran domestik di dalam rumah. Di sisi lain, sebagian perempuan ada yang menjadi garda terdepan dalam upaya penaggunalangan covid-19 seperti tenaga kesehatan yang tetap bekerja melaksanakan tanggung jawab publiknya, bahkan dengan volume kerja yang lebih tinggi dibandingkan waktu sebelum pandemi.  Bagi keduanya, manajeman waktu untuk alokasi pekerjaan domestik dan publik harus ditinjau kembali.  Tanggung jawab untuk WFH (baca: Work form Home or Work form Hospital) tetap harus diselesaikan di tengah kian panjangnya daftar pekerjaan domestik akibat pembatasan interaksi sosial.

Sebagai sumber daya bangsa yang berharga, peran perempuan menjadi sentral di masa pandemi. Saat akses menjadi terbatas, menjaga aset terdekat yaitu keluarga adalah utama. Sebagai satuan masyarakat terkecil, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku masyarakat. Bersama lelaki (baca; suami, ayah, saudara), eksistensi perempuan di wilayah domestik sebaiknya diarahkan pada aktivitas yang menunjang setiap upaya pencegahan penularan virus corona. Dalam menjalankan fungsi keluarga, peran perempuan terutama ibu adalah mengupayakan agar anak dan anggota keluarga mengkonsumsi nutrisi yang memadai, tentu saja dengan menyesuaikan kapasitas ekonomi.  Ikhwal kebersihan pun harus mendapat perhatian ekstra. Mencuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas wajib menjadi kebiasaan. Menciptakan suasana rumah yang nyaman dan aman juga tak boleh diabaikan. Perempuan harus disiplin menggunakan masker saat terpaksa keluar rumah. Di balik semua ikhtiar, tak boleh dilupakan adalah perempuan wajib menjadi corong untuk menyuarakan semangat spiritualitas dalam keluarga untuk selalu berharap kepada-NYA. Saat wabah ini, perempuan di dalam keluarga harus berdaya menunjukan jati diri sebagai teladan.

 

            Seremoni vs internalisasi; penguatan komunikasi keluarga

Praktek ketidakpedualian terhadap situasi pandemi Covid-19 masih nyata di Negeri ini. Pada berbagai media informasi, seruan lockdown mencuat dari sebagian warga yang khawatir kian marak dilaporkan. Pemerintah juga telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada daerah dengan jumlah kasus positif yang banyak dan risiko penularan lokal yang tinggi. Namun, di tengah seruan dan upaya tersebut, tak sedikit pula berita yang menginformasikan jika masih ada saja masyarakat yang berkumpul di café atau fasilitas umum lainnya dengan alasan ngerumpi dan reuni. Situasi bertambahnya jumlah penderita Covid-19 yang meninggal tidak lantas membuat rencana kumpul mereka gagal. Banyak pula perilaku maladaptif lain yang dipertontonkan masyarakat kita, sehingga dapat menghambat upaya menekan penyebaran virus corona di kalangan masyarakat.

Segala upaya tentang penganggulangan corona memang bukan perkara yang sederhana. Selain upaya maksimal pemerintah, kesadaran dan keterlibatan masyarakat secara penuh sangat dibutuhkan. Kebijakan pemerintah tentu belum sempurna. Akan tetapi, setiap orang termasuk perempuan memikul tanggungjawab untuk memelihara kesahatan diri dan keluarga. Upaya persuasi maupun represi yang telah dilakukan pemerintah seyogyanya dibarengi dengan upaya persuasi yang sifatnya personal. 

Tindakan edukasi maupun persuasi personal akan sangat mudah dilakukan dalam lingkungan keluarga. Pada titik inilah peran perempuan sangat dibutuhkan. Perlu disadari bersama bahwa setiap orang adalah anggota dari sebuah keluarga, termasuk pribadi-pribadi yang mesih cenderung abai terhadap keseriusan wabah corona. Setiap orang sangat mungkin memiliki sesosok perempuan berharga di dalam keluarga yang dihormati; ibu atau istri atau nenek atau saudara. Di dalam menejemen perubahan individu, pemberi pesan atau siapa yang menyampaikan pesan merupakan salah satu aspek yang berpengaruh besar dalam mengubah perilaku seseorang. Di sisi lain, dibandingkan dengan laki-laki, perempuan memiliki kelebihan dalam hal kehangatan dan penggunaan rasa dalam komunikasi. Perempuan dapat menjadi edukator sekaligus komunikator andal dalam menyampaikan pesan penaggulangan covid-19.  Edukasi dan persuasi tidak hanya dapat dilakukan bagi keluarga yang tinggal serumah saja, tetapi perempuan dapat memanfaatkan media komunikasi kekinian untuk anggota keluarga yang tidak berada di sisi. Perilaku pengabaian publik mungkin bisa diredam jika perempuan Indonesia menumbuhkan empati dan peduli pandemi sehingga mampu memainkan peran domestiknya secara maksimal. Perempuan di dalam keluarga perlu didorong untuk memposisikan diri sebagai agent of change dalam penaggulangan corona. Keberadaan perempuan yang berdaya untuk mewujudkan keluarga peduli Covid-19 menjadi penguat bagi negara dalam menghadapi bencana non alam ini.

Pembatasan perayaan hari kartini pada situasi pandemi tahun ini, mungkin menjadi momentum yang tepat bagi perempuan Indonesia untuk merefleksikan dan menegaskan kembali bahwa semangat perjuangan Kartini telah terinternalisasi meskipun tanpa seremoni. Ketika wabah covid-19 mengharuskan segala aktivitas terfokus di rumah saja, maka memaksimalkan peran di dalam keluarga adalah bentuk aktualisasi yang sempurna dari seorang perempuan. Kartini bukanlah tentang perempuan berkebaya namun sejatinya adalah perempuan yang berdaya.

sumber : saidahrauf.id




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook

Melihat semua komentar

Menulis komentar